Ikut project-nya dan dengarkan lagunya!
February 21, 2011
Dear all, kali ini project baru kita adalah #CurhatCintaColongan!
Sebenarnya project generasi pertama #CurhatCintaColongan ini sudah pernah dilakukan, hanya saja saat itu belum ada nulisbuku.com, jadi semua cerita hanya di posting di blog ini dan di notes facebooknya Curhatcintacolongan. Dan sekarang kalian adalah generasi berikutnya dari #CurhatCintaColongan!
Nah karena ini curcol colongan, jadi sebaiknya kisahnya adalah curcol beneran!, tapi curcolnya tentang cinta ya, tidak harus cinta kepada seorang kekasih, tapi bisa juga cinta kepada ayah, ibu, kakak, adik atau bahkan sama sepatu kesayanganmu, misalnya. ![]()
Anggap saja kamu bercerita kepada sahabatmu, yang mungkin kamu hanya butuh didengarkan saja.
Dan serunya semua curhat cintamu ini akan kita bukukan di nulisbuku.com!
Dan kalian boleh menggunakan nama samaran kok, jika memang dibutuhkan
Syaratnya mudah:
1. NO SARA & NO Pornography!
2. Cerpen diketik dengan spasi 1, font Times New Roman ukuran 12. Maksimal 7 lembar template Nulisbuku, belum punya? Download di sini-> Template Nulisbuku
3. Batas akhir pengiriman naskah tanggal 1 Maret 2011, pukul 24 WIB
4. Kirim naskah kalian ke curhatcintacolongan@yahoo.com dengan format subject: judul#idtwitter. Jangan lupa cantumkan identitas kalian: nama lengkap, email, id twitter.
5. Boleh mengirimkan lebih dari 1 naskah
Dan untuk project #CurhatCintaColongan ini kami sudah menciptakan 3 (tiga) lagu soundtrack-nya loh!
Khusus diciptakan untuk kalian!
Kalian bisa curhat sambil mendengarkan lagu pertama Cuhat Cinta Colongan, download di sini:
1. CURHAT CINTA (dengarkanlah)
2. ‘TERPANA – OST #curhatcintacolongan atau download di sini
3. Yang ke-3 Menyusul ya! Ikuti terus di twitter-nya @nulisbuku.
Ikuti project-nya dan dengarkan lagunya!
Selamat curcol cinta! :p
Note:
Segala pertanyaan tentang project ini langsung mention saja ke twitter-nya @nulisbuku atau ke koordinator project-nya: @misswangi
Anak Papa
June 10, 2010
Saya anak kesayangan papa.
Gimana enggak, sesaudara cuma berdua sama mas….. mana bedanya setahun (lebih tepatnya sih 14 bulan). Sebagai anak perempuan satu-satunya, dan bungsu pula, sejak kecil pun sudah terlihat jelas betapa manjanya saya ke papa.
Saya anak papa yang enggak bisa jauh dari papa.
Dari kecil, kalau ditinggal papa pergilebih dari seminggu pasti sakit. Bukan sakit berat sih, paling cuma sakit panas dan kalau malam ngigau panggil-panggil nama papa. Tapi bagi mama, saya adalah rival besarnya yang mampu mengalahkan perhatian papa saat pulang kerja… hihihi..
Saya anak papa yang kalau dibentak sedikit langsung nangis.
Jika mengingat itu rasanya ingin tersenyum. Papa paling nggak tega kalau lihat saya menangis, dan itu merupakan senjata paling ampuh yang sering saya gunakan jika dimarahi papa.
Biasanya, kalau saya mulai menangis, papa langsung berhenti marah.
Saya anak papa yang suka iseng. Inget jaman sma jatuh dari motor waktu disetirin mas. Pas itu, muka sampai nyium tanah penuh luka. Sakitnya nggak seberapa, cuma kesel banget sama mas, seharian nangis aja biar mas dimarahin papa biar kalau bawa motor juga nggak ngebut lagi.
Inget waktu maen berdua mas terus nggak sengaja dia ngejedotin kepala ke tembok (si mas memang sadeeees kalau becanda ), langsung deh nangis aja biar mas dimarahin papa.
Iseeeng banget kaaann . (sori ya maass, sengajaaaa……)
Saya seperti bukan anak papa lagi ketika beranjak dewasa dan mulai mengenal lelaki.
Mulai malu kalau jalan berdua papa dan dirangkul papa.
Mulai malau papa pasang muka serem ke temen-temen laki.
Mulai malu kalau mesti lari-lari ke arah mobil papa yang jemput setiap selesai kuliah sore.
Ingeeet nggak paaa…
Waktu kita bertengkar…
Dari masalah sepele yang mogok latihan nyetir mobil gara-gara papa marahin sepanjang perjalanan
(dan memang akhirnya bisa nyetir mobil setelah menikah itupun karena les )
Sampai ketika papa nggak merestui hubunganku sama teman lelaki saat itu (maaf ya pa, kita berteman sampai sekarang meskipun papa nggak tahu itu).
Kini saya tahu perasaan papa……
Ketika sembilan tahun lalu, papa yang menikahkanku dengan Abang.
Papa yang kupikir saat itu nggak akan mampu jadi wali nikahku (karena kedekatan kita yang amat sangat ya paa, pasti waktu itu deg-degan juga melepaskan satu-satunya anak perempuan buat disunting laki-laki lain), ternyata lancer menikahkanku tanpa menangis (justru saya yang nangis sesenggukan sehari sebelumnya ya paaa… J)
Sejak saat itu, papa punya saingan lain….. Abang dan Ayah…..
Iyaa..sejak saat itu, hidupku tak lagi buat papa
Meskipun, saya sangat mencintai kalian bertiga eh berempat ding sama mas.
Sejak saat itu, Abang yang mesti didahulukan.
Meskipun dia tidak pernah merasa terbebani dengan kedekatanku dan papa.
Sejak papa sakit, keadaan berubah….
Justru saya yang mesti mengantar papa kemana-mana.
Justru saya (disamping mama tentu saja) yang mesti mendengarkan keluh kesah papa yang tak kunjung usai (sabar ya paa, saya selalu berdoa untukmu).
Justru saya yang bolak-balik mengecewakan papa, terlalu sering berjanji kemudian mendadak batalin karena kesibukanku sekarang ini.
Papaaa….
Saya tetap berusaha jadi anak papa dengan keterbatasan yang saya miliki.
Ingin membuat papa selalu tersenyum, di sisa usia papa.
I LOVE U PAAAA…..
- Nina Dk
Terus Belajar Buat Lebih Sabar
May 18, 2010
Tak pernah terfikirkan pada saat itu untuk menikah muda. Kuliah juga belum selesai. Hobi juga masih suka nongkrong sama temen-temen cowok. Jadi setelah bertemu beberapa kali dan dia meminta untuk menjadi istrinya, sempet melongo selama beberapa menit (entah dia sadar atau nggak saat itu) hihihii… Hanya memerlukan waktu setahun meyakinkan hati dan menyamakan keinginan diri pada saat itu, maklum beda usia kami memang sepuluh tahun. Jadi kalaupun saat itu aku yang pertama kali menikah di antara teman perempuan tapi suami termasuk (lewat) usia menikah.
Setahun pertama, fokus nyelesai’in kuliah yang saat itu tinggal tugas akhir, ketika semua orang menanyakan tentang , “Udah hamil belum?” saya hanya bisa tersenyum dan menegaskan dengan gelengan kepala. Tahun kedua, ketika saudara yang hampir berbarengan melakukan pernikahan sudah pada menimang bayi dan saya tetap belum ada perubahan, pertanyaan orang-orang tetap bagai angin lalu, maklum masih juga 24 tahun, meskipun terkadang pertanyaan mereka bikin bete.
Tahun keempat dan kelima adalah yang paling berat, sempet nggak mau ketemu sama orang, bosen banget menjawab pertanyaan yang jawabannya bikin nyesek….. “Kenapa belum sih?? Ditunda yah, pake KB??” “Nggak ada yang nunda, jika memang Tuhan belum mempercayakan kepada kita….. saya menerimanya.” Jujur, bosan juga mendapatkan pertanyaan yang itu-itu aja dan sebetulnya memang tidak ada yang salah di pertanyaannya, hanya menyiapkan jawaban kalau hati sedang tidak siap rasanya pengen nangis. Kalau bisa saya akan merekam semua jawaban yang ditanya orang berulang-ulang, dan memutarnya di depan mereka. Apalagi kalau sudah mulai dibandingkan. “ Si A sudah hamil, kok kamu belum” atau “ Si B lagi hamil anak ketiga, masak satu aja nggak bisa.” Tidak merasakah jika keadaannya dibalik, diposisi seperti diriku saat itu , gimana jika mendapatkan pernyataan seperti itu, menyakitkan atau nggak.
Bukan berarti kami tidak berusaha, hanya kami tidak ingin menghalalkan segala hanya untuk mendapatkan momongan. Kadang bertemu dengan dokter perlu tenaga ekstra , karena observasi yang dilakukan secara tiba-tiba bikin “keder” hati. Mesti sabar mengantri dokter setiap bulan, terkadang pulang sampai dini hari. Kalau ditanya pernah merasakan capek, jenuh, dan menyerah??? Iyaaaa banggeeett, bohong kalau berkata nggak pernah mengalaminya, biasanya pada saat kebosanan melanda, kami akan break dari dokter dan berusaha mendekatkan diri satu sama lain. Kami melihat sesuatu jika dipaksakan hasilnya akan tidak baik. Tidak selalu tapi kebanyakan begitu. Aaaahh, kalian pasti berfikir mengapa tidak mencoba datang ke pengobatan alternatif bukan?? Sudah kok, cuma memang kami hanya mau untuk dipijet itu pun masih milih tukang pijetnya. Kami lebih percaya dokter, kalau disuruh melakukan ritual yang aneh-aneh atau minum jamu-jamuan lebih baik nggak deh, karena kami lebih percaya pada saatnya nanti kalau memang sudah waktunya Tuhan akan mengirimkannya pada kami.
Satu lagi, saya paling bête kalau ada pertanyaan, “ Sebenernya siapa yang bermasalah sih? Kamu atau suamimu?” Penting ya pertanyaan seperti itu. Kalaupun saya yang bermasalah sehingga nggak bisa punya momongan kenapa?? Ataupun kalau memang suami saya yang bermasalah bisa apa?? Saya mau membahasnya, hanya pada sebagian dari mereka yang bisa memberikan solusi bagi kami. Kalau hanya sekedar omongan dan tanpa ada jalan keluar biasanya saya hanya tersenyum dan pergi menjauh dari percakapan yang bagi saya membosankan.
“Momongan sudah berapa mbak?”
“Belum nih, doakan aja yaaa…..”
“Eheem, penganten baru ya mbak?”
“Nggak, sudah jalan 9 tahun….dan saya memang masih terus dilatih sabar buat dapet momongan.”
“Iyaaa mbak….bilang aja yang ini garapan halus perlu di bordir supaya hasilnya bagus…”
Lucu juga jawabannya, kadang justru dari mereka yang bertanya saya bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang menjemukan dengan gurauan.
Sekarang, saya bisa tersenyum ikhlas setiap menjawab pertanyaan orang yang baru saya kenal jika bertanya tentang saya. Sembilan tahun telah mendewasakan saya, memutuskan untuk mengurung diri demi menghindari pertanyaan tidak akan menyelesaikan masalah. Paling penting adalah mendapatkan kekuatan dari pasangan, tanpa itu saya pun tak akan mampu menghadapi pertanyaan orang yang sampai sekarang masih terus menghantui.
-endeka
Suatu hari teman baikku menanyakan hal itu kepadaku saat kita sedang makan sate bareng. Spontan aku jawab “tidak akan aku jawab saat ini” suatu jawaban yang sangat diplomatis, gak tahu siapa yang ngajarin aku untuk jawab diplomatis seperti itu, padahal gak pernah kuliah di jurusan komunikasi apalagi hubungan internasional.
Sahabatku itu Cuma bilang, “kalau kamu tidak datang artinya kamu dewasa, kalau kamu datang artinya kamu lebih dewasa” semakin diplomatis lagi. Padahal sahabatku itu juga bukan seorang diplomat.
Apa yang terjadi di sini adalah suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jangankan untuk datang di kawinan mantan istri, cerai pun tidak ada di kamusku sampai akhirnya perceraianku & mantan istriku terjadi.
Ironisnya aku juga punya kerjaan sampingan sebagai fotografer kawinan, jadi sering banget tuh dengar pasangan yang ucapin janji suci sehidup semati di muka altar. Tadinya motret kawinan adalah hal yang mengasyikkan, setelah perceraianku terjadi hal itu bukan suatu hal yang mengayikkan lagi. Suatu hari aku motret kawan yang menikah di gereja, saat mereka mengucapkan janji suci perkawinan, tiba-tiba muncul kilatan memori di kepalaku, saat aku mengucapkan janji suci itu juga ke pasanganku dulu. Seluruh kalimat masih teringat kuat di kepalaku, seluruh janji yang begitu indah, diucapkan di depan altar, dihadapan Tuhan & jemaatNya, diakhiri dengan kalimat yang diucapkan Pastor “apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia”
Saat motret kawinan kawanku itu, aku perlahan minggir mengambil nafas sejenak, menghapus air mata yang tiba2 mbrebes mili (maaf, tidak menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia), menarik nafas panjang dan sambil berdoa dalam hati aku bilang “maafkan aku Tuhan, aku tidak bisa menepati janji itu, ampuni dosaku Tuhan, aku tidak layak berada dirumahMu ini”. Biar dibilang professional maka aku teruskan lagi foto-fotonya, walaupun dalam hati lagi ada pergulatan yang belum selesai.
Balik lagi ke pertanyaan sahabatku tadi, pusing2 mikirin jawabannya, emang kalau mantanku kawin lagi aku bakalan diundang sama dia? Jawabannya sama saja, kalau dia tidak undang aku artinya dia dewasa, kalau dia undang aku artinya dia lebih dewasa…
- Me.
Harapan dan Kenyataan: tentang aku, kau dan dia
May 1, 2010
Aku seakan tidak percaya, mengenalmu begitu cepat. Seperti Tuhan mengirimkan dirimu padaku. Dirimu begitu berbeda, seakan melihat diriku dalam bentukmu, melihatmu bagaikan cermin bagiku. Tak butuh waktu lama untuk bisa jatuh cinta padamu. Ini seakan keajaiban bagiku. Ya, tak perlu ragu aku mengatakannya… Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama aku melihat dirimu. Terlalu naif memang. Masa lalumu pun tidak penting bagiku. Meskipun jika kudengar lagi ceritamu, kau selalu mengulang-ulang kesalahan yang sama. Ketika dia datang kembali dalam hidupmu sebelumku, menemanimu dalam setiap waktumu. Satu pertanyaan timbul dalam hatiku,mampukah aku merebut hatimu darinya.
Kau mulai menatapku, ada keyakinan pasti di situ. Kau mau, aku menjagamu setiap saat, untuk setiap jawaban atas pilihanmu di masa lalu, yang aku sendiri tak yakin dengan apa yang telah kau perbuat. Kau pun tak pernah berfikir panjang, menganggap bahwa semua pria di bumi ini adalah makhluk baik, menganggap bahwa kejadian beberapa tahun silam telah usai, meskipun trauma itu tak pernah hilang darimu. Kau berusaha menutupinya, dengan bersikap santai di depan para pria dan aku tahu itu, walaupun kau berusaha menutupinya dariku. Tapi kau juga selalu membutuhkan dia berada di sisimu. Dimanapun, kapanpun, kamu membutuhkan dia menjagamu, karena kamu tahu aku tak mampu melakukannya. Sorot matamu, memancarkan hal lain padaku, seolah memohon satu hal yang tak mungkin kulakukan. Aku tak bisa menjaga kamu, jika yang kau minta dariku adalah seluruh waktuku untuk bersamamu seperti yang bisa dia lakukan saat ini kepadamu. Namun yang harus kau mengerti, doaku terhadapmu mestinya lebih bisa menjagamu.
Dia tersenyum pada sosokmu yang berdiri di depannya. Kau telah mengembalikan rasa percaya dirinya, meskipun itu berarti dia harus menjadi penjagamu kemana pun kau mau. Masa lalunya seburam masa lalumu, dan yang aku tak tahu bagaimana bisa mereka berusaha menghilang dari masa lalu kalian. Dia dan kau seolah menikmati peran yang kalian mainkan saat ini. Dia hanya menginginkan sebuah kepastian, yang selama ini tak pernah didapatkannya. Keinginan mu untuk segera menikah hanya untuk lari dari suatu masalah, itu yang terus terang menakutiku. Bukan berarti aku tak berani untuk mengambil langkah bersamamu, namun menurutku untuk sesuatu yang nanti harus dipertanggungjawabkan dihadapan Nya, aku tidak berani bermain-main. Walaupun bahkan dia berusahan meyakinkanku untuk menikahimu, demi keputusan di masa lalumu, yang menurutku sangat suram.
Aku berlari, menjauhimu dan dirinya. Terserah jika kau bilang aku pengecut, mungkin memang benar, sisi lain dalam hatiku mengatakan kebenarannya. Aku tak berani mempertahankan cintaku kali ini. Membuang segala harapan untuk menyusuri hari bersamamu. Bagiku, pernikahan bukan suatu permainan, terlebih lagi aku hanya bisa melakukannya sekali dalam hidupku. Inginku, semuanya tak perlu terlalu dipaksakan, karena aku akan menjagamu dengan caraku dari semua masalah yang datang padamu. Namun, jika memang kehadirannya mampu melegakan hatimu, aku rela melepaskanmu untuk dia dan kebahagian mu. Hanya semuanya tak pernah ku sangka, kau hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk meyakinkan hatimu setelah ketidakhadiran diriku untuk MENIKAH dengannya.
Mungkin aku adalah orang yang terbodoh yang telah kamu kenal, aku masih terlalu takut menghadapi hidupku. Biarlah ketidakdewasaanku, kesombonganku akan menjadi lembaran gelap bagi diriku.
Aku…
Berdiri disini, ditempat yang sama ketika kau datang menemuiku pada saat pertama kali.
Tulus mengucapkan padamu, Semoga Kau berbahagia dengan Dia.
Satu hal untuk kalian berdua,..
jangan lakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu, karena kalian tidak hanya bertanggungjawab atas diri kalian, terhadap Tuhan, tapi juga terhadap anak-anak kalian dan masa depan mereka.
Aku minta padanya untuk menjaga mu baik-baik selamanya…
Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri untuk cintaku saat ini.
Keinginanku kau menungguku di tempat yang sama untuk satu dua tahun ke depan, setelah aku punya lebih dari sekedar keberanian menyakinkan hatiku.
Meskipun berat melepaskanmu untuknya, yang aku tahu Tuhan masih tetap mengasihiku.
Lewat doa, aku selalu menjagamu…hingga nanti.
Ternyata cinta telah menemukan jalannya sendiri,
cinta memilih untuk menyepi lagi saat ini
-NN
————————–
Mine Just Right For Me (Seri: Membesarkan Anak Hari Ini)
April 25, 2010
..Mine just right for me..(A song @ barney home video)
————————–
Papa itu kalau kaki kaka naik di kepalanya, pasti ditegur..
Papa itu kalau main sama kaka serunya sampai satu rumah dengar suara kami,gimana dak terbahak-bahak, kaka diangkat, kepala di bawah,seruu..
Papa itu kalau nyuapi, sendok jadi pesawat, n hati2 sekali, dak pernah makanan kepanasan masuk mulut, urusan gantiin baju dll juga lebih lembut (sttt,dibanding mama)
Papa itu selalu ajari kaka “caranya” jadi kaka bisa praktik kalau pas papa dak ada..
Papa itu suka peluk kaka dan cium kaka..
Papa itu suka kasih kaka kesempatan kedua,kadang kaka khan masih kepengen es krim itu,(masak sesuap lagi dak boleh ma?) Termasuk kalau kaka mau coba lagi setelah percobaan pertama merusakkan barang kesayangannya
Papa itu selalu memilih bagian yang paling baik, barang dan makanan untuk diberikan ke kaka
Papa itu selalu bilang,”kaka paling cantik, paling pintar, paling manis, paling lucu”
Kaka itu selalu percaya kaka,”kaka lho selalu yang disuruh jaga mama”..
Papa selalu menemukan cara “bermain baru” untuk barang kaka yang itu-itu
Papa itu pasti sayang kaka
Mama..
Mama itu kalau kaka panggil pasti ada..
Mama itu bisa tetap nyuapi kaka sambil cuci botol susu, sambil terima telepon dan beberapa kegiatan lain sekaligus
Mama itu suka minta kaka tanggung jawab untuk semua perbuatan kaka, numpahin air,suruh pel,kececerin makanan, suruh buang sampah..
Mama itu suka peluk kaka dan bilang “I love you”, kaka jawab “a syu” (I love you versi kaka)
Mama itu selalu yakinkan kaka untuk berani,”Tuhan Yesus ada sama kaka”, katanya
Mama itu,selalu ceritain kaka sebelum tidur, buku yang sama versinya beda-beda (“ma,kaka dak suka cerita bahasa inggris” turunan papa ini anak kalau soal bahasa:D)
Mama itu selalu kasih kaka pilihan, “mau kerupuk yang ini (potongan kecil) atau tidak sama sekali?” (Waktu kaka ngotot minta yang utuh)..
Mama itu selalu butuh bantuan n minta dibarengi kaka, angkat barang, cuci baju, pergi bank, kerja, belanja, makanya kaka jadi repot kan..
Mama itu mau menyayikan lagu bersama kaka, meski kaka suka ganti-ganti permintaan lagunya..kaka dak sabar, kenapa sih lagu kok panjang- panjang?kaka nyambung lagu lain ahh..
Mama pasti sayang kaka:)
- Liliana Imago
—————————————————————-
http://curhatcintacolongan.wordpress.com/
100% Nggombal. 100% Main hati.
Saya memang tak sempurna
April 23, 2010
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA sepanjang hari saya bersamanya
Mengawasi setiap detil gerak-geriknya
Memeluknya bila ia ber-airmata
Menjadi pelarian utama demi jawaban sederhana setiap pertanyaan rumitnya
Tanpa ia harus menunggu lama
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA dengan tangan saya sendiri saya menyuapinya
Kaki saya yang menjejeri langkahnya kemana saja
Mulut saya yang menuntunnya mengeja
Hingga telinga saya juga yang pertama kali mendengarnya membaca sebaris kata
Dan mata saya yang menemani matanya mengagumi bianglala sang tontonan langka
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA saya membuatnya bangga di depan teman-temannya
Karena sayalah yang berjaga di depan kelasnya
Menangkap lega di binar matanya ketika menangkap-basah mata saya
Yang sedang mengintipnya dari balik jendela
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA saya yang menyulut rasa gembiranya
Karena setiap kali ia pulang dari mana saja, sayalah orang pertama yang dilihatnya
Sayalah yang memberinya tentram
Karena saya yang selalu membelai rambutnya, hingga ia lesap dalam tidur lelapnya
Bahkan sebelum sekelumit dongeng saya tiba pada akhir yang bahagia
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA hanya raut wajah saya yang marah pada kenakalan sederhananya
Bukan hati saya
Dan hanya hati saya yang mengiyakan rengekan tak masuk akalnya
Bukan raut wajah lelah saya
Saya memang tak sempurna
Tapi SETIDAKNYA tanpa saya minta, saya selalu bisa mendengar irama terindah di dunia
Saat tak terhitung berapa kali dalam sehari dipeluknya saya sambil berkata,
“ Terima kasih Mama “
..dan..
“ Aku sayang Mama ”
Dan.. pelukan serta irama terindah itulah
KESEMPURNAAN saya..
…:: DEE ::…
—————————————————-
I call her Mama Khalif.
April 13, 2010
Sidoarjo, 30 Oktober 2008
Saya memanggilnya Mama Khalif. Karena dia mempunyai anak laki-laki 8 tahun bernama Khalif. Seumur dengan anak sulung saya. Dia pun memanggil saya ‘Im’, singkatan dari mama Baim. Kita biasa bertemu hampir setiap hari di sekolah saat mengantar anak-anak di pagi hari. 3 tahun kita bersama menyekolahkan anak di Taman pendidikan islam yang cukup terkenal di Sidoarjo. Tapi saya tidak pernah benar-benar mengenalnya, sampai pada akhir tahun pelajaran TK B, kita mengadakan perpisahan tambahan di rumah camat Porong. Mama Khalif begitu bersemangat mengadakan acara ini.
Pada awalnya saya hanya membantu sedikit, tapi melihat semangatnya yang luar biasa, saya jadi ikut bersemangat. Mencari souvenir berdua di pasar turi naik bis kota, naik motor ke Porong tepat saat itu ramai-ramainya macet Lumpur Lapindo, bahkan muterin kota Sidoarjo mencari tempat ngeprint murah untuk foto kenang-kenangan anak-anak. Hanya dalam waktu seminggu saya dekat sekali dengan Mama Khalif. Wajahnya yang cantik, senyumnya yang tulus dan gerakannya yang cekatan serta ide-idenya yang kreatif membuat saya merasa nyaman didekatnya. Walaupun baru kenal dekat seminggu, dia selalu berusaha melindungi saya dan membuat saya nyaman. Hanya satu hal yang agak mengganggu, Mama Khalif selalu batuk.
Lama kelamaan batuknya menjadi parah. Saya inget suatu hari ada teman saya mengingatkan “ati-ati lu temenan sama Mama Khalif, dia kan TBC, ntar lu ketularan kalo deket-deket dia terus!!”. Mustinya saya setuju dengan peringatan itu, tapi entah kenapa saya tetep saja mengiyakan setiap ajakannya untuk pergi atau sekedar beli bakso bersama.
Walaupun pada akhirnya anak anak kita bersekolah di sekolah dasar yang berbeda, kita tetap berhubungan intens. Satu hal yang membuat kita klik, saya dan Mama Khalif punya jiwa wiraswasta yang tinggi. Kita selalu berdiskusi bagaimana menghasilkan uang tanpa meninggalkan anak. Kita sepakat, anak adalah investasi tertinggi kita, waktu ketika anak-anak bersekolah-lah yang mau kita manfaatkan dengan maksimal. Berkat motivasi Mama Khalif, saya jadi berani berjualan jilbab kecil-kecilan dirumah, kebetulan jilbab yang saya jual lagi trend saat itu, jadi dagangan saya laris manis.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuka butik busana muslim bersama dengan Mama Khalif. Dalam bayangan saya, kita akan kulakan bersama ke Bandung atau Jakarta, menghitung penjualan setiap hari bersama dan aktifitas lainnya. Saya melakukan semua perhitungan dan persiapan pembukaan butik bersama dengan Mama Khalif, walaupun kadang dia batuk dengan sangat parah. Sampai akhirnya ketika kita akan meresmikan butik keesokan paginya, malam harinya Mama Khalif mengirim sms “sorry br bls, td mlm ke dr. hp ketinggalan! Im mgkn gw blm bs naruh modal di butik, hsl biopsy gw jelek, jd kayaknya mengarah u/ dikemo, tp gw msh cr alternatf lain, so smtr gw cmn bantu2 elo dulu ya!”
What ! dikemo? Saya bener-bener nga nyangka kalau Mama Khalif terkena kanker paru-paru. Saya langsung lemas. Membayangkan selama ini dia wira wiri membonceng saya naik sepada motor dengan tubuh ringkihnya yang digerogoti sel kanker. Mama Khalif tidak pernah mengeluh. Belum terlalu jauh saya menerawang tiba-tiba hp saya berbunyi lagi, Mama Khalif sms saya lagi “Thxs ya Im, thxs 4 everything, plis keep this just 4 u ! gw hrs sembuh, anak2 msh butuh gw, gw ikhlas diksh cobaan ini, insyllh bs kurangin dosa2 gw!! Gw seneng pergi ma elo, kyk dkt ma sodara2 gw. Skl lg thxs berat ya Im.”
Sejak saat itu Mama Khalif agak mengurangi kegiatannya, dan hanya dalam waktu sebulan, dia betul-betul tidak bisa kemana-mana lagi karena nyeri di dada dan batuk yang semakin menggila. Tapi walopun begitu, dia masih bisa berfikir positip, dia selalu berkilah “….gue lagi dihukum sama Allah Im, dulu gue setiap hari bingung mau kemana, sekarang gue bener-bener ngga bisa kemana-mana!”. Dokter yang pertama kali mendiagnosa Mama Khalif memperkirakan umurnya hanya 6 bulan. Tapi Mama Khalif selalu tertawa dan merasa pasti akan sembuh!
Seiring berjalannya waktu, tawa Mama Khalif semakin tak terdengar, bahkan berbicarapun semakin sulit. Dalam waktu 3 bulan, dia tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Sel kanker telah dengan ganas menyerang paru-parunya. Mama Khalif telah mencoba banyak pengobatan alternative, bahkan rutin ke salatiga untuk dikemo herbal. Tapi tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya saya paksa untuk ke palliative dr.Sutomo. Saya kenal dekat dengan dr.Erna. Sebetulnya sejak awal terdiagnosa kanker, saya sudah mengajak Mama Khalif ke palliative, tapi dia selalu menolak karena merasa orang-orang yang masuk ke palliative adalah orang-orang yang sekarat. Secara kebetulan pada suatu malam saya bisa mengajak dr.Erna untuk menengok Mama Khalif yang tidak berdaya di tempat tidurnya. Walaupun baru pertama kali bertemu, dr.Erna tidak canggung untuk duduk dan memijat-mijat Mama Khalif. Dari pembicaraan singkat malam itu, saya pun ikut faham bahwa palliative sangat membantu pasien kanker untuk meningkatkan kualitas hidupnya, menghilangkan nyeri, beban pikiran dan membantu menyelesaikan masalah-masalah si pasien dari semua segi kehidupan, bukan hanya dari segi medis.
2 hari berselang, Mama Khalif meminta saya untuk di antar ke palliative dr.Sutomo. Walaupun kodisinya sudah memburuk, Mama Khalif tetap terliat ceria di sepanjang perjalanan. Sesampainya di ruang perawatan, dr.Erna menyuruh saya untuk mengurus pendaftaran dilantai 1. Saat itulah saya baru sadar bahwa saya tidak tau nama Mama Khalif yang sebenarnya. Saya hanya terbiasa memanggilnya Mama Khalif seperti dia juga terbiasa memanggil saya Mama Baim. Tapi apalah arti sebuah nama, yang penting hati kita terkoneksi oleh sesuatu yang kita sendiripun tidak bisa menjelaskan. Kunjungan ke Palliative ini merupakan kunjungan Mama Khalif yang pertama sekaligus yang terakhir.
Setelah itu sakitnya semakin memarah, tapi justru dengan begitu saya mengenal Mama Khalif semakin dekat. Dia ternyata cucu pertama pahlawan nasional R.E Martadinata. Saya baru tau itu setelah dia dirawat inap di RSAL dan ditempatkan di paviliun 8, tempatnya para jenderal dirawat inap. Sayang di RSAL tidak ada palliative sehingga dr.Erna ataupun dr.Agus hanya bisa berkunjung sebagai penjenguk saja. Tapi itupun sangat banyak membantu mental Mama Khalif yang sudah sangat down. Sering sekali dia berkata ”….gue nyerah Im, gue nyerah!!”. Saya selalu tidak bisa berkata banyak untuk memotivasi dia. Melihat badannya yang sangat kurus, batuknya yang tidak pernah berhenti, keringat yang terus mengucur, dadanya yang nyeri dan susah bernafas, bahkan pandangannya mulai mengabur. Di kunjungan saya yang terakhir Mama Khalif berpesan “…….titip anak gue”.
Tepat 3 hari setelah itu Mama Khalif akhirnya betul-betul menyerah dan dipanggil menghadap sang Khalik..
Sekarang tepat 9 bulan setelah kematian Mama Khalif, saya masih sering berandai-andai. Bila saya sedang menghadapi masalah, saya selalu membayangkan Mama Khalif ada disamping saya dan mendengarkan semua cerita saya. Kebetulan 2 bulan belakangan ini, saya betul betul di uji oleh Allah. Saya dihujani fitnah dilingkungan sekolah anak saya. Niat baik ternyata tidak cukup untuk meyakinkan banyak orang. Sikap kritis saya akhirnya berbuah musibah. Saya diminta oleh ketua yayasan sekolah anak saya untuk memindahkan anak saya ke sekolah lain, hanya karena saya membela dua orang guru yang akan dikeluarkan dari sekolah tersebut.
Tidak ada pilihan lain, disiang yang terik saya berjalan ke SD swasta terbaik di Sidoarjo yang letaknya berdekatan dengan rumah sakit Siti Hajar untuk mendaftarkan anak saya sekolah. Sekolah ini terkenal ketat menyeleksi calon siswanya, tapi alhamdulillah saya tidak menemui hambatan yang berarti ketika mendaftar. Begitu gampang dan mudah.
Di hari pertama sekolah di sekolah barunya, anak saya sedikit ketakutan. Sehingga saya memutuskan untuk menungguinya seharian penuh di sekolah. Ketika saya duduk di pelataran sekolah, tiba-tiba sesosok wajah yang sangat familiar terpampang di depan wajah saya. Dengan senyumnya yang khas dan sangat mirip. Khalif!!! Anak itu begitu mirip dengan mamanya. “Tante ngapain kesini?”tanyanya polos. Oh my God!! Rupanya inilah rahasia Allah untuk saya. Perjalanan hidup saya selama ini adalah untuk bertemu dengan Khalif, anak yang dititipkan mamanya yang meninggal karena kanker paru. Subhanallah!!
Tulisan ini saya buat 2 tahun lalu dan saya upload untuk mengenang persahabatan terindah yang pernah saya jalin dalam waktu yang sangat singkat dengan seseorang yang sangat luar biasa baik, Mama Khalif.
- Tittu Riana
————————————————————–
Curhat Seorang Istri Pegawai Pajak
April 10, 2010
Tulisan ini saya buat tidak untuk menyalahkan atau menuding siapa pun, ini adalah sekedar curhat seorang istri
Gara-gara Gayus Tambunan, akhir-akhir ini kalau melihat tayangan berita di televisi rasanya hati tergelitik, ingin ikut berkomentar, tapi suami selalu melarang saya untuk berkomentar, “Biarin aja Bu, orang mau bilang apa, jangan terpancing”.
Kebetulan suami saya adalah seorang pegawai pajak. Dan kebetulan pegawai pajak yang satu ini nggak seperti kebanyakan pegawai pajak yang lain, yang katanya (katanya loh ya!) gaya hidupnya ‘wah’, dst, dst.
Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta asing yang juga berurusan dengan perpajakan, saya tau bagaimana ‘berurusan’ dengan pegawai pajak. Banyak omongan miring tentang pegawai pajak. Mendengarnya saya sering khawatir, takut suami saya ikut-ikutan seperti itu, makanya saya selalu cerewet mengingatkan suami untuk tidak berbuat pelanggaran. (baca : korupsi)
Selama menjadi istri pegawai pajak, alhamdulillah saya merasa hidup saya berkecukupan. Punya dua anak laki-laki yang pintar dan lucu, punya suami penyabar, dan keluarga besar yang selalu mendukung kami. Memiliki kendaraan (hasil mengangsur, ketika saya masih bekerja), bisa menyekolahkan anak, tinggal di tempat tinggal yang layak (kami masih ‘menumpang’ di rumah ortu, punya rumah di bintaro pun itu dibeli dengan uang ortu). Kurang apa lagi?? Rasanya sudah cukup dan bersyukur sekali atas apa yang telah saya dapatkan sekarang ini.
Saya baru tau kalau yang namanya hidup berkecukupan ala pegawai pajak itu ternyata jauh banget dari ala saya. Ini juga taunya dari televisi, ketika kasusnya Gayus mencuat. Punya rumah mewah, mobil mewah….wah…wah…wah…
Ooo…itu toh yang namanya berkecukupan, berarti saya ini apa donk?
Belum satu tahun saya akhirnya menyusul ke Jakarta tinggal bersama dengan suami menjadi satu keluarga yang utuh. Sebelumnya, selama 5 tahun sejak saya hamil anak pertama, kami tinggal pisah kota, suami di Jakarta dan saya di Bandung. Alasannya karena ketika baru menikah suami saya baru diangkat menjadi PNS, tau sendiri berapa gajinya. Kebetulan saya mendapat tawaran bekerja di Bandung, kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Selama 5 tahun saya bekerja sambil ‘nebeng’ di rumah ortu. Selama itu pulalah kami berdua menabung seperak demi seperak, untuk memperkuat fondasi keuangan rumah tangga kami, sampai akhirnya tiba waktunya saya berhenti dari kerja dan bersama anak-anak tinggal di Jakarta dengan suami.
Kini, saya sudah tidak lagi bekerja, otomatis uang hanya dari satu keran, yaitu dari suami. Hidup di kota metropolitan terasa mahal, apalagi sekarang saya sudah tidak bekerja, sudah tidak ‘nebeng’ dengan ortu.
Suami saya berubah menjadi ‘Paman Gober’ yang irit dan sangat perhitungan. Untungnya saya masih ada bekal ‘pesangon’ yang diberikan dari perusahaan tempat saya kerja dulu, jadi kalau mau jajan-jajan masih bisa. Sekarang kami tidak punya pembantu, karena kalau pakai pembantu otomatis ada pengeluaran tambahan. Suami saya nggak doyan makan-makan di luar, malah beberapa minggu yang lalu ia sempat mengajukan usul, “Setiap minggu kita jalan-jalan, tapi untuk makan harus bawa bekal dari rumah atau sebelum berangkat harus makan dulu di rumah.” Dia orangnya amat sangat hidup sederhana, meskipun sekarang jaman BlackBerry…tapi dia dan saya tidak menggunakannya, karena memakaiBB itu harus mengeluarkan biaya. Oh iya setiap hari suami saya membawa bekal sarapan pagi dan makan siang, saya yang memasaknya di rumah, maksudnya tak lain dan tak bukan karena untuk PENGHEMATAN…(dasar Paman Gober ya!).
Bertapa sedihnya saya karena akhir-akhir ini pekerjaan suami dijelek-jelekkan oleh banyak orang. Suami saya termasuk pegawai yang berdedikasi tinggi , bertanggung jawab dan jujur. Karena menurutnya bekerja adalah ibadah untuk mencari ridho Allah SWT. Beberapa waktu yang lalu, suami saya sakit, sampai tidak bisa berjalan. Istri mana yang tidak sedih dan khawatir melihat kondisi suaminya yang seperti itu. Kejadiannya dimulai dari Jumat malam, kakinya mulai kaku. Dia kesakitan untuk menggerakkan kakinya. Mandi harus saya mandikan, dan dia berusaha bangun dari tempat tidur dengan bantuan saya. Suami menolak ketika saya ajak ke Rumah Sakit, dia minta saya membelikan obat dan kakinya dikompres air panas. Malam Senin, sebetulnya kondisinya belum baik, jalannya masih kaku dan diseret-seret, saya menyarankan agar hari Senin ijin tidak masuk kantor, dan mengajaknya ke RS untuk berobat. Suami menolak, dia bilang nggak enak kalau harus bolos, karena pekerjaannya banyak sekali. Sempat kesal mendengarnya, tapi suami saya itu nggak bisa saya cegah. Hari Senin, suami berangkat memakai mobil (biasanya dia ke kantor pakai motor). Pulang kantor kondisinya memburuk, saya bujuk lagi untuk berobat, dia tetap nggak mau. Malam itu suami saya mengompres kakinya yang sakit dan berlatih berjalan agar keesokan harinya bisa tetap bekerja. Lalu keesokan harinya dan seterusnya dia nekat berangkat pakai motor. Baru hari Jumat siang dia mau saya antar ke fisioterapi di RS dekat tempat tinggal kami (karena kondisinya yang semakin kesakitan). RS itu termasuk RS yang mewah, biaya sekali fisioterapi Rp 140.000,-. Suami harus mendapat terapi sebanyak minimal 5x. Mendengar hal itu, suami saya yang ‘Paman Gober’ ini jelas merasa kemahalan.Dia pun mencari RS Pemerintah yang ada klinik fisioterapinya, kebetulan di dekat kantornya ada RSUD/Rumah Sakit Umum Daerah, biaya untuk fisioterapi lebih murah ketimbang di RS swasta sebelumnya, sekali datang Rp 75.000,-. ‘Paman Gober’ ups…maksudnya suami saya semangat dan mau menyelesaikan terapinya sampai sembuh
.
Sikap suami saya yang karakternya seperti ‘Paman Gober’ ini tentu saja punya maksud tertentu. Ya, memang beginilah yang seharusnya kami jalani, yaitu hidup sesuai dengan penghasilan (seorang PNS Dirjen Pajak). Nggak boleh neko-neko, atau bermewah-mewah menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Kami HARUS CERMAT & HEMAT, demi impian kami di masa depan.
Sayangnya, sekarang yang diekspose oleh media dan khalayak umum hanya yang jelek-jeleknya saja. Padahal nggak semua pegawai pajak seperti Gayus. Masih banyak kok yang jujur dan takut Tuhan, salah satunya adalah si ‘Paman Gober’ alias suamiku. Hidup kami kalau dibandingkan dengan Gayus memang sangat bisa dibilang nggak ada apa-apanya. Tapi saya dan suami nggak pernah merasa ‘kere’ alias miskin, alhamdulillah kami bersyukur atas segala apa yang Tuhan beri untuk kami. Sampai-sampai saya juga dengar dari koran dan televisi, nanti akan ada pemeriksaan rekening/harta kekayaan pegawai pajak. Saya sih ketawa sama suami, periksa aja….malah saya bilang ke suami, “Malu kali Pa, kalau sampe diperiksa, soalnya kita mah nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka-mereka itu.”
- Ira Noor
Dipilih Untuk Tidak Dipilih
March 27, 2010
–> This Love
————————————————
Belum lagi tangan yang pegal karena selang infus yang sudah 3 hari dipasang. Minggu lalu sakit gejala typhus, tapi dasar badung masih saja nonton Java Jazz sampai jam 1 pagi.
Minggu ini dokter bilang aku kena pneumonia alias radang paru. Aneh, padahal aku gak merokok. Mungkin udara Jakarta yang tidak bersahabat jadi penyebabnya. Atau mungkin udara di dalam kantor yang full AC yang menjadi pencetusnya. Atau mungkin sakit paru-paru 30 tahun yang lalu kambuh lagi. Sudahlah, yang jelas kata dokter harus dirawat di RS karena obat diberikan via infuse.
Pengalaman pertama kali seumur hidup masuk RS. “anggap saja masuk hotel” kata bapakku. Oke deh, aku berangkat sendiri, bawa tas ransel isi baju ganti dan surat jaminan dari kantor. Sampai di RS langsung diantar ke kamar dan langsung di infuse. Ternyata sakit juga saat jarum infuse plastic pertama kali masuk ke pembuluh vena. Lama-lama jadi terbiasa juga ada selang di tangan dan rasa sakitnya jadi hilang digantikan oleh rasa pegel. Aku di kamar kelas 2 RS MMC yang berisi 3 orang, namun orang ke-3 sudah boleh pulang, jadi tinggal berdua saja sama Toni.
Toni sudah seminggu di kamar ini, penyakitnya ada cairan yang membungkus jantungnya, sehingga detak jantungnya tidak normal bahkan dia merasa tubuhnya bergetar. Hmm, penyakit zaman sekarang ini semakin aneh saja.
Hari pertama lewat, hari kedua lewat, hari ketiga mulai membosankan. Tidak bisa kemana-mana karena ada selang infuse di tangan. Hiburan Cuma TV yang acaranya pun sudah ketebak karena re-run terus. 7 pounds, Band of brothers, sex in the city (versi tahun kuda), Mad Max beyond thunderdome, The Lodger. Untung teman-teman datang menjenguk, tapi sepulangnya mereka sepi lagi deh. Film yang paling berkesan adalah This Christmas, menceritakan keluarga Afro-American kelas menengah di LA yang semua anaknya ngumpul kembali untuk merayakan Natal.
Semua anaknya datang dengan bahagia dan menceritakan kesuksesan mereka, padahal itu semua hanya topeng. Ternyata semuanya bermasalah, dari si sulung sampai si bungsu, dari masalah hutang, masalah pekerjaan sampai masalah percintaan. Namun akhirnya semuanya terbuka dengan masalah mereka dan dengan cinta kasih dan dukungan dari keluarga maka semuanya bisa mendapat jalan keluar yang terbaik sehingga mereka bisa merayakan Natal dengan bahagia.
Hal ini menyadarkan aku bahwa selama beberapa bulan belakangan ini aku hidup dengan topeng yang aku ciptakan sendiri. Topeng yang membuat kehidupan aku terlihat baik-baik saja dari luar padahal sebenarnya hancur berantakan.
Aku dalam posisi yang paling rendah dalam kehidupanku. Bukan karena masalah ekonomi, memang masalah ini aku rasakan tahun lalu. Tapi ternyata dipilih untuk tidak dipilih adalah masalah yang paling membebani pikiran aku. Sang mantan (bukan lagu Nidji) lebih memilih orang lain untuk mengarungi kehidupan ini. Kenapa bukan dengan aku? Apa salahnya aku? Ya memang saat itu aku tidak punya pekerjaan, di PHK saat anakku baru lahir, berat banget kondisinya saat itu. Aku masih terus berpikir dengan teori “bila saja”. Bilasaja dulu aku tidak di PHK mungkin keluarga aku masih utuh. Bilasaja aku gak pindah kantor mungkin aku gak di PHK. Terus aja di runut ke belakang.
Mungkin semua pikiran itu membebani mentalku, sehingga badanku akhirnya tidak kuat menanggung semua beban itu akhirnya minta istirahat sejenak alias sakit. Aku udah pernah sharing dengan pendeta di gerejaku. Sarannya adalah melakukan pemulihan hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan. Pemulihan dengan sesama dilakukan dengan memaafkan dan mengampuni orang yang sudah meninggalkanku. Dengan demikian hubungan dengan sesama dipulihkan dengan cinta kasih Tuhan dan hubunganku dengan Tuhan pun turut dipulihkan.
Aku berjanji dengan diriku untuk tidak melihat ke belakang lagi dan mencoba untuk melakukan pemulihan hubungan tsb. Memang tidak mudah tapi harus dilakukan. Bukan hanya untuk kepentinganku sendiri tapi juga untuk kepentingan anakku. Kasihan dia menjadi korban dari perceraian ini. Tapi aku yakin Tuhan punya rencana yang terbaik untukku dan keluargaku, tidak tahu apa tapi aku yakin pasti.
Karena Dia tidak pernah meninggalkan umatNya dan Dia tahu apa yang terbaik buat umatNya.
- NN
—————————————————————-
http://curhatcintacolongan.wordpress.com/
100% Nggombal. 100% Main hati.
