Yang terakhir…..

September 16, 2009

–> Angel – Sarah McLachlan

——————————————

ini akan jadi yang terakhir.. begitu katamu…
aku pun mengiyakan dalam hangat dekapmu…kan jadi yang terakhir…
harus jadi yang terakhir…
jadi tak boleh lagi ada rindu itu…
jadi tak boleh lagi ada dekap itu…
karena kan jadi yang terakhir…

aku tahu, tak akan ada yang bisa menahan waktu…
yang terus mengganti hari dan menggulirkan malam…
seharusnya memang sudah tak ada lagi rindu itu…
karena tak akan mungkin lagi ada dekapmu…

tapi rinduku tak juga berlalu…
meski semua sudah berakhir…
meski semua harus berakhir…

- Ardina
Depok, 16 September 2009
Spend all your time waiting
For that second chance
For a break that would make it okay
There’s always one reason
To feel not good enough
And it’s hard at the end of the day
I need some distraction
Oh beautiful release
Memory seeps from my veins
Let me be empty
And weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

- Sarah McLachlan

—————————————————————-
http://curhatcintacolongan.wordpress.com/
100% Nggombal. 100% Main hati.

–> This Time – John Legend
————————————————————-

Perenungan ini diawali dengan sebuah hipotesa, “Cinta yang membuat dunia berputar”. Maka otak akan menjadi bimbang menentukan kemana ia melangkah. Ke arah persetujuan atau penolakan. Bagi si optimis, mungkin ya. Bagi si skeptis, mungkin tidak. Namun saya adalah si optimis yang sering memandang segala sesuatu secara skeptis, dan nampaknya saya tidak sendiri.

Saya lelah mengamati cinta. Lelah menjadi pelaku cinta. Bagaimana cinta hadir dengan sejuta rasa dalam hidup seseorang. Bagaimana cinta dapat membawa rona dalam kejemuan perputaran roda hidup. Bagaimana cinta dapat menjadi bara yang hangat untuk kemudian berubah menjadi bencana. Bagaimana cinta menyayat luka mendalam yang akan selalu menganga. Bagaimana cinta dapat memporakporandakan hidup seseorang.

Saya bukanlah pakar percintaan, namun pengalaman membuat saya berkesimpulan bahwa cinta tidak lebih dari pribadi ganda birahi. Menyamarkannya dengan indah dan menggiurkan. Mengundang dengan cara yang paling menggoda, sulit ditebak…juga sulit ditolak. Segala kepedihan yang dibungkus dengan cantiknya. Saya muak.

Maka tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap cinta dan semua pemujanya, saya memutuskan untuk berhenti menggantungkan harapan kepada cinta…dan belajar mengenal kasih.

Di mata saya, bukan cinta yang membuat dunia berputar, namun kasih. Kasih yang menerima segala kekurangan, bahkan berusaha mengisinya. Kasih yang mengampuni dan memberi kekuatan. Kasih yang membuat manusia bertahan dan tetap waras. Kasih yang memberi tanpa pamrih, bahkan berharap yang terbaik untuk mereka yang terkasih. Kasih tidak egois, bahkan ketika raga merasa letih karenanya…kasih tetap memaksa untuk peduli. Kasih tidak menyalahkan, namun memberi kesempatan. Cinta melukai, namun kasih senantiasa menyembuhkan.

Saya ingin hari-hari dalam kehidupan saya diwarnai kasih. Tidak untuk menerima, namun memberi dengan apa yang saya miliki. Memberi kepada semua orang, terutama kepada mereka yang begitu dekat dengan saya dan mewarnai setiap langkah dalam perjalanan hidup saya. Keluarga, kekasih, sahabat, kolega, bahkan hingga orang asing yang mungkin hanya akan saya jumpai sekali seumur hidup.

Maka di mata saya, yang sekali lagi hanyalah si optimis yang seringkali memandang segala sesuatu dalam hidup secara skeptis, dunia berputar bukan karena cinta. Namun dunia berputar karena keinginan setiap individu untuk membuatnya berputar, dengan memberikan kasih dan juga dikasihi secara terus-menerus.

Satu kasih setiap hari yang diberikan secara acak kepada siapapun membuat dunia ini menjadi tempat tinggal yang indah. Dapatkah kita merasakannya?

- Hana May

Dengkur

September 10, 2009

Dulu, beberapa belas tahun yang lalu, aku sering merasa jengkel dengan mamaku.
Salah satu kejengkelan itu adalah dengkurnya yang keras sekali. Dengan tinggal dirumah yang kecil, jika malam dengkuran itu membahana ke seisi rumah. Sering ia kubangunkan hanya supaya dengkurnya berhenti.

Kini, setelah Tuhan karuniakan banyak berkat, mama ikut denganku, pindah ke rumah yang lebih layak untuk ditinggali.

Malam ini, aku minta ia menemaniku. Beberapa hari ini aku tidur sendirian di kamar, Karena istri dan anakku yang baru berumur satu minggu menginap di rumah mertuaku. Maklum, pertama punya anak. Pengalamannya nol besar. Dan guru terbaik baginya adalah ibu kandungnya sendiri. Lagi pula istriku harus dibantu karena fisiknya tidak cukup kuat pasca operasi caesar.

Malam ini dengkur itu kembali terdengar. Dengkur yang sama. lebih keras malah. Tapi kali ini aku mendengarnya sebagai sesuatu yg merdu. Dengkur yang membuat aku meneteskan airmata. Aku baru sadar, bahwa bertahun-tahun dengkur itu ada karena kelelahan. Lelah merawatku, dengan segala keterbatasannya. Ya, mamaku adalah seorang wanita yg jauh dari gambaran ibu ideal. Pendidikannya tidaklah tinggi. Wawasannya tidaklah luas. Tapi ia adalah mama terbaik bagiku. Ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Kadang cara itu kelewat unik buatku. Sampai hari ini, keunikan itu kadang menjadi pertengkaran kecil, bahkan terkadang besar. Begitulah kami, saling mencintai dengan caranya sendiri. Ada saja cara bagi kami untuk kembali berdamai. Hari ini, aku belajar kepada bayi yang baru berusia 7 hari, tentang arti cinta kasih orangtua kepada anaknya. Satu hal yang bertahun tahun kuketahui, tapi tidak kumengerti dengan baik. anakku lah yang membuat dengkur mama menjadi merdu di telingaku….

Terimakasih untuk semua yang kaulakukan ma, aku mencintaimu……doaku Tuhan senantiasa memberi kesehatan, umur panjang, untuk menyaksikan cucumu tumbuh besar, dan memberi engkau kasih yg dulu mungkin tidak sepenuhnya kaudapat dariku……..

Menikmati hidup

September 8, 2009

Catatan ini merupakan buah perenungan saya selama beberapa pekan. Untuk sebagian orang akan terasa membosankan, oleh karena itu…adalah keputusan masing-masing individu untuk terus membaca atau memutuskan untuk berhenti disini.

Pada sebuah diskusi dengan seorang teman, terlontar sebuah pertanyaan, “Bagaimana caranya menikmati hidup? Terutama ketika masa sulit tiba.”

Sederhana. Saya akan berkata, “Banyak bersyukur, banyak tersenyum, dan banyak berbagi”.

Mungkin terdengar klise atau remeh, saya mengerti. Namun terus terang, tidak mudah untuk melakukan ketiga hal tersebut.

Bukan perkara yang mudah untuk bersyukur ketika peristiwa pahit datang. Bukan perkara yang mudah untuk tersenyum ketika hati menangis. Juga bukan perkara yang mudah untuk berbagi ketika kita sendiri merasa berkekurangan. Jika ada yang berkata, “bersyukur, tersenyum, dan berbagi itu mudah..” maka saya akan lantang menyatakan bahwa orang tersebut belum pernah mengalami masa-masa sukar dalam hidupnya. Selantang saya menyatakan lirik lagu “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” itu konyol. Percayalah. Tidak ada manusia yang ingin mengalami sakit, baik gigi maupun hati. Dan tidaklah mudah pula untuk bersyukur, tersenyum, dan berbagi.

Saya berkesimpulan bahwa hidup adalah mengenai pengendalian diri dan penerimaan. Itu semua akan diuji ketika peristiwa pahit tiba.

Manusia tidak selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mungkin mobil mewah, harta benda, ketenaran, pekerjaan bagus bergaji besar, atau pasangan yang sempurna. Saya juga tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan. Tidak jarang saya menangis dan terpuruk, namun saya kembali bangkit. Bersyukur, tersenyum, dan berbagi. Semua melalui waktu dan proses.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk berpikir dan mencerna. Berusaha untuk menarik intisari kebaikan dari segala peristiwa, tidak peduli apakah peristiwa tersebut menyenangkan atau menyakitkan. Disitu saya tersadar bahwa kekuatan yang sesungguhnya membuat saya mampu bertahan datang dari penerimaan dan pikiran positif. Bukan berarti saya tidak pernah berpikir negatif atau marah dan memberontak. Namun ketika kita memutuskan untuk mengikhlaskan apapun yang terjadi, kekuatan dan penghiburan akan diberikan kepada kita.

Manusia tidak bisa memiliki satu hal tanpa hal yang lain, yang merupakan sebuah paket. Tidak ada mobil mewah tanpa harga mahal, bahkan mobil hadiah pun pasti ada pajaknya. Tidak ada prestasi tanpa pengorbanan. Tidak ada kecantikan tanpa rasa sakit. Juga tidak ada pasangan sempurna tanpa cacat cela. Tapi tidak ada pula masalah tanpa penyelesaian. Itulah mengapa saat ini saya tersenyum dan tetap optimis. Karena di terlepas dari rasa sakit dan keterpurukan yang saya alami, saya memiliki sahabat-sahabat yang membantu saya menemukan kekuatan kembali untuk kembali melangkah. Bersama dan untuk mereka, saya akan bersyukur, tersenyum, dan berbagi.

Apakah saya selama ini sudah menikmati hidup? Saya selalu berusaha. :)

- Hana
—————————————————————-
http://curhatcintacolongan.wordpress.com/
100% Nggombal. 100% Main hati.

It’s about time…

September 7, 2009

A friend of mine, gave me this quote:

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya. (khalil gibran)

Aku yakin *a*i*a lebih bahagia tanpa aku, tp apakah cintaku sebesar itu, berhenti mencintainya sama seperti mengulang cerita 18 tahun yang lalu… apa aku harus pergi… lagi?

Matthew 5:46
For if ye love them which love you, what reward have ye? do not even the publicans the same?

Malam ini dapat kabar dari Bunda kalo Rasyad sakit, dan harus di opname di rumah sakit
wuaahhh…ayah sedih banget, khawatir, merasa bersalah, campur aduk deh pokoknya

Malam ini ayah ada di ribuan kilometer dari kamu nak
Maaf ya nak, ayah ga’ bisa jagain kamu

Ayah tau kamu anak yang kuat dan tegar kok
Jangan khawatir nak Bunda, Ayah, Mas Arsyad selalu ada di sampingmu
Ayah akan terus berdo’a buat kamu supaya lekas sembuh dan bisa main lagi sama Mas Arsyad

Ya ALLAH…lindungilah selalu keluargaku
Berikanlah kesehatan buat keluargaku
Berikanlah kesembuhan buat Arsyad dan Arsyad
Hanya Kamu Ya ALLAH yang bisa memberikan kesembuhan dan melindungi

Cepat sembuh ya Rasyad
Ayah, Bunda, Mas Arsyad sayang kamu

Kalo Ayah udah pulang kita main robot-robotan sama mas Arsyad ya de’

Chiba-Japan, 02 September 2009
- Arief Lucky

Ramadhan 2 Tahun Yang Lalu

August 31, 2009

Ketika ramadhan seperti ini, selalu bayanganku kembali pada ramadhan dua tahun lalu
Ketika beliau harus dirawat di rumah sakit karena sakit yang ternyata sangat menyiksanya
Ketika kami para anak-anaknya tidak begitu memahami apa yang dirasa beliau pada saat itu
Ketika dokter menjatuhkan vonis yang membuat kami semua harus merahasiakan hal ini pada beliau

Aku hanya melihat satu kali beliau menangis, walaupun kami tahu sakit itu sangat menyiksa tubuh
Ketika aku mengatakan kami semua berada di sampingmu, menjagamu, mendoakan yang terbaik untukmu
Entah apakah itu kalimat yang terlambat yang keluar dari mulutku karena pada saat itu beliau tak bisa mengatakan apa-apa lagi pada kami

Mengapa aku tak melihat tanda-tandanya, ketika ramadhan tahun sebelumnya beliau memanggilku dan berkata, “Nina di buku ini tertulis apa saja kewajiban kita setiap Ramadhan… Tolong jaga dan simpan jika tahun depan kamu membutuhkannya”

Teringat bagaimana mengalahnya beliau ketika kami semua (anak,menantu dan cucu) berkumpul di kamar tidur yang membuat beliau tak bisa istirahat, ketika kami mencari, beliau berada di salah satu kamar tidur yang sempit di lain ruangan untuk beristirahat
Teringat ketika para cucu membuat berantakan kamar tidur dan beliau hanya tersenyum

Aku mengenal hanya sejenak, hanya enam tahun sejak aku menikah tapi banyak yang telah beliau ajarkan kepadaku terutama mengajarkan untuk tetap tersenyum dan berbagi kepada sesama

Dan ketika Yang Kuasa telah memanggil beliau di hari ke sepuluh ramadhan dua tahun yang lalu, kami hanya bisa mengamalkan apa yang telah beliau ajarkan

Satu hal janji kami untuk beliau adalah bahwa kami akan selalu menjaga ibu dan tak akan membuat beliau menangis

Tak akan ada ramadhan yang sama ketika Engkau masih menemani kami disini

Titip rindu untukmu Ayah dan doa kami senantiasa mengalir untukmu, semoga Engkau mendapatkan tempat yang terindah disana
Terima kasih atas kasih sayang kepada kami semua di sini para anak, menantu dan cucumu
-amien-

*mengalir airmata kerinduan padamu, Yah….*
9 Ramadhan 1430 H

Kasihku. Waktuku.

August 29, 2009

Apakah ukuran mengasihi?
Pagi ini aku sadar bahwa mengasihi sangat berhubungan erat dengan berapa banyak waktu yang kita berikan. Semakin banyak waktu yang kita berikan untuk sesuatu, semakin menunjukkan besarnya kasih kita kepadanya.

Tiba-tiba bayangan beberapa tahun yang lalu melintas. Saat masih tinggal satu kota dengan kedua orang tua dan adikku satu-satunya. Saat itu meski kita tinggal serumah, aku merasa tidak cukup waktu yang kuberikan untuk mereka. Bisa dikatakan jauh dari cukup.

Sekarang aku baru sadar kenapa di suatu hari ibuku menangis, tanpa kata-kata sambil menghampiri dan memelukku di pagi hari saat aku hendak berangkat bekerja lagi, padahal malam sebelumnya aku tiba dirumah larut malam. Aku tidak punya cukup waktu untuknya.

Saat itu, ternyata pikiranku rancu, antara membuat bangga orang tua dan mengasihi mereka. Ternyata ibuku tidak membutuhkan hadiah berupa materi, itu bukan yang paling diinginkannya. Ibuku menginginkan harta yang paling berharga dariku: kasih dariku, yaitu waktuku.

Aku tidak menginginkan air mata kesedihan ibuku, atau bapakku, atau adikku, bahkan istri dan anakku jatuh lagi karena aku kurang memberikan waktu untuk mereka.

Aku berjanji untuk mengasihi mereka dengan waktuku.

“Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih. Kasih paling baik diekspresikan dengan waktu. Waktu terbaik untuk mengasihi adalah sekarang.” – Rick Warren

- Ega
Sabtu, 29 Agt’09

17 Agustus 1945

August 18, 2009

Bukan. Tulisan ini tidak diperuntukkan negaraku tercinta, melainkan kecintaanku yang lain. Beliau sungkan mengatakan bahwa hari lahirnya sama dengan hari Kemerdekaan RI. Malas dikomentari orang-orang yang tidak-tidak dan dikait-kaitkan dengan sepak terjangnya selama ini. Sejatinya memang, ketika beliau lahir Indonesia masih dalam keadaan perang dan mungkin saja Nenek Indo, ibundanya, berada terlalu jauh di pedalaman untuk mendapatkan informasi gembira tersebut. Di Bulukumba, sebagai anak laki-laki kedua dari yang kelak 11 bersaudara, ayahku dilahirkan.

Tidak banyak yang kuingat tentang cerita-ceritanya ketika kecil. Jadi aku tak berani menulis banyak mengenai kehidupan ciliknya di sini. Yang kutahu, beliau kecil adalah anak laki-laki yang nakal. Membawa daun kentut-kentutan ke dalam masjid, membulusi adik perempuannya agar memegangi benang layangannya sambil tak lupa dibentak-bentaknya, mengadu ayam, dikejar-kejar suami orang hendak digebuki lantaran apa aku lupa… oh iya, selepetannya mengenai istri pria tersebut. Kalau ngga salah.

Sebagai gantinya izinkan aku menceritakan mengapa aku begitu bersyukur dilahirkan sebagai anaknya. Bukan. Bukan karena beliau adalah sosok yang diakui dalam dunia akademisi tanah air. Bukan karena beliau adalah sosok yang idealis dengan kekayaan pas-pasan. Bukan karena kalau beliau hadir ke Jogjakarta untuk berbicara, aku dan kakakku bisa menumpang tidur di Hotel Santika dan menikmati sarapan buffet sepuas-puasnya sebelum berangkat kuliah. Surga bagi anak kost. Bukan. Bukan itu semua.

Aku bersyukur menjadi anak beliau karena:

Suatu Minggu siang di dalam sebuah apartemen hangat di Anapuni St., tiga bersaudara yang jarak umurnya berdekatan (4, 6 dan 7) sedang asyik bermain petak umpet. Mama sedang mencukur rambut suaminya yang sedang asyik menonton tennis di televisi. Dua kakak laki-laki selalu lebih lihai dari si adik perempuan dalam permainan apapun kecuali yang melibatkan boneka Barbie. Ketika tiba kesempatan langka si kecil tidak dipecundangi untuk ‘jaga’, ia kelimpungan mencari tempat sembunyi yang pas. Ia berlari-lari ke sana ke mari di depan Mama dan Papa dengan panik, sementara kakaknya menghitung maju cepat sekali.

Papa menangkap lengan gadis kecilnya, sambil meletakkan jari telunjuk tangannya yang lain ke mulut berisyarat,
“Ssshh. Masuk sini…” bisiknya sambil mengangkat sarung yang dikenakannya.
Mata sang anak langsung berbinar. Ide hebat! Mereka tak mungkin berpikir untuk mencariku di dalam sana. Cepat-cepat ia merangkak masuk ke bawah sarung Papa, menciutkan tubuh kecilnya sambil memeluk lutut. Dari dalam sarung samar-samar ruangan tv terlihat.

“..98..99..100! Ready or not, here I come!” teriak Yogas dari kusen pintu kamar yang dijadikan tempat ‘ingloo’. Yogas adalah anak kedua yang sangat competetive. Ia bukan tipe orang yang gampang menyerah, terlebih-lebih yang suka kalau kalah. Dian semakin berusaha mengecilkan badannya sambil berharap-harap cemas campur geli mengingat tempat persembunyiannya yang tidak lazim. Tak lama Pilar berhasil menyambar sarang, dan tinggal Dian yang harus dicari oleh Yogas.

Tahu kan, menjadi yang ‘jaga’ dalam permainan petak umpet amat memusingkan. Kita bertugas mencari pemain lain sambil tetap harus menjaga sarang, kalau-kalau pemain lain datang menyerang. Kalau semua pemain lain berhasil menyentuh sarang, alamatnya ‘jaga’ lagi. Jika terus-terusan ‘jaga’ artinya ‘digondokkin’ hahaha.. emang ‘gondok’ bener rasanya.

Yogas tidak menemukan Dian yang jaraknya hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi. Juga tidak ada di sekitar ruang tivi. Ia berpikir untuk mencarinya di dalam lemari di kamar-kamar. Tapi selalu berlari atau berjingkat kembali ke sarang, kali-kali aja Dian sedang beranjak keluar dari persembunyiannya. Kalau adu lari masih keburu pikirnya. Ketika Yogas masuk ke kamar, Papa yang sedang menjadi ‘mataku’ berbisik, “Ngga usah keluar sebelum Papa bilang ya.” “Iya” aku berbisik balik lalu terkikik-kikik. “Ssshhh…” bisik Mama. Dua bocah tua nakal yang berkonspirasi.

Pilar akhirnya juga penasaran dan bertanya ke Mama.
“Ma, Dian di mana ngumpetnya, Ma?”
Mama hanya menjawab sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, jari-jarinya sibuk memilah-milah rambut lebat suaminya menggenggam gunting dan sisir kecil mirip para ahli. Sesekali matanya melirik ke tivi. Borris Becker sedang mengumpat lalu membanting raketnya.
“Coba cari. Papa juga ngga tau.” kata Papa yang terdengar seperti menahan tawa.
Dian kecil di bawah sana mengatupkan mulut dibantu telapak tangannya yang mulai berkeringat. Cemas campur geli. Angin yang bertiup menggoyang sarung Papa seolah berada di pihak Dian mengelabui sekaligus menyejukkan.

Setengah jam mencari serasa seabad untuk Yogas. Wajahnya mulai terlihat kesal. Ke mana sih itu anak. Kok tumben jago banget ngumpetnya. Dia kembali memeriksa tempat yang jelas-jelas sudah dia periksa. Papa dan Mama malah asik menggodanya.
“Nyerah ngga? Udah nyerah aja….”
“Jangan keluar dulu Dian. Di situ aja dulu. Tahan…” Papa bersandiwara seolah Dian tidak sedang meringkuk di bawah sarungnya melainkan entah dimana.

Tapi Papa bukannya berencana menyimpan Dian di sana sampai Yogas menyerah. Kurang afdhal rasanya. Ia menunggu saat yang tepat ketika Yogas kembali untuk mengecek isi lemari di kamar, dan mengangkat sarungnya agar Dian bisa keluar. “Sekarang! Lari!” Dian berlari menuju kusen pintu alias ’sarang’ dan berteriak ‘ingloo’ sekuat-kuatnya. Melompat-lompat menikmati kemenangannya. Tertawa-tawa bersama Papa dan Mama. Yogas keluar dari kamar, bengong dan kalah.

Sesudah itu, Yogas sudah tidak mau main. Sudah capek, katanya.
“Iya, iya… udah sana pada tidur siang.” suruh mama memaklumi anak keduanya. Kami pun masuk ke kamar dengan kasur panjang di lantai dan berbaring melintang bertiga. Dian menatap langit-langit kamar dan jendela di depannya sambil tersenyum ceria. Pilar sudah mulai terlelap. Yogas, memiringkan badannya menghadap adiknya, “Tadi ngumpet di mana sih?” jawaban yang diperolehnya hanya sepatah kata ‘Rahasia’.

I love You, Dad.
This one’s for your Birthday.
- Dian

sekitar umur segini.

Gara-gara Hobi Ngobrol

August 18, 2009

Masih menari-nari dalam ingatan, kurang-lebih 20 tahun yang lalu, aku masih SD, ketika pulang sekolah aku bercerita pada Mama dengan gemetar karena takut dimarahi. Uang SPP yang harus kubayarkan hari itu berpindah tangan pada perempuan tak dikenal. Yang entah bohong atau tidak dia mengiba beralasan tak punya uang untuk makan anak-anaknya. Dan benar saja, Mama marah. Bukan..bukan karena Mama pelit sehingga tak punya belas kasihan pada fakir-miskin. Tapi karena aku sudah membiarkan diriku berbicara dengan orang tak dikenal yang bisa jadi cuma ngibul demi mendapatkan uang SPP yang sedang kugenggam pagi itu. Kejadian itupun sudah yang kesekian kali.

Sejak itu Mama jadi lebih sering berpesan dengan hebohnya (gak enak mau bilang cerewet..hehe..), “Jangan suka ngobrol sama sembarang orang !”. Wedew..pembunuhan karakter nih ! Mulanya aku nurut. Tapi lama-lama..hey..menurutku pesan itu nggak relevan sama sekali. Bagaimana tidak, setiap kali berada di samping Mama, entah itu di pasar, di mall, di kantor PLN waktu bayar listrik, di halte, atau dimanapun berada, tidak bisa dipungkiri, pemandangan Mama sedang mengobrol dengan orang tak dikenal selalu tersaji di depan mata. Wah..wah..gak adil nih ! Gak konsekuen ! Bukannya kalo Mama yang sedang ngobrol dengan orang tak dikenal, kans untuk “dipalak” juga pasti ada ? Huhh..
Yang paling bikin malu, waktu itu aku ABG, kami berdua ke mall dan mampir ke counter underwear.

Dengan santainya Mama berbagi cerita dengan seorang ibu tak dikenal tentang pengalaman menstruasi pertama anak perempuannya. Lalu tiba-tiba dengan lantangnya, “Nyiiillll..kayaknya yang ini cocok buat kamu..!” Hiyyaaaaa..rasanya mau kabuuuurrrr !! Gimana nggak, di mall yang notabene nggak ekslusif cuma perempuan yang boleh hadir ! Ampuuunnn..

Belum lagi hal-hal sepele yang menurutku kedengaran nggak penting, seperti kalo goreng tempe biar enak sebelum dibumbui sebaiknya dikukus dulu. Ato belanja di pasar A bisa nawar sampai sekian rupiah daripada di pasar B, beli kerudung di toko C biar jatuhnya lebih murah harus beli minimal 3 biji, waktu kena asam urat kalo gak ke Sinshe X kayaknya gak bakalan sembuh. Bahkan soal ketika mulutku kemasukan rambut (waktu itu aku TK) saat potong rambut di salon sambil nyanyi “One Day In Your Life”-nya Michael Jackson pun diceritain ke orang gak dikenal ! Waduuuhh..

Satu-satunya keuntungan dari obrolan spontan Mama dengan orang-orang asing itu menurutku adalah jika kebetulan kami terpisah di tengah-tengah kerumunan maka aku jadi nggak kesulitan menemukannya. Karena suara dan gaya berceritanya yang khas !

Dan beberapa waktu yang lalu, aku, Mama, dan Daanisy (si kecil 3,5th-ku) pergi ke salah satu mall. Seperti biasa, demi memenuhi konsekuensi prinsip “gemar membaca” pada Daanisy, kami mampir ke toko buku. Saking asyiknya dengan buku yang menarik hati kami masing-masing, tiba-tiba..lhoh..Daanisy mana ? Waduuuhh..jangan-jangan tanpa sadar dia keluar toko entah kemana. Udah mau nangis rasanya. Kami berdua panik mencari kesana kemari. Sampai akhirnya aku melihat Mama seperti tertegun menyaksikan sesuatu.

“Ada apa, Ma ?”aku penasaran.
Lalu Mama menunjuk ke satu arah, “Liat tuh..Daanisy..”
Sepontan kulayangkan pandangan kearah yang direkomendasikannya. Pemandangan Daanisy sedang berbicara pada seorang Bapak dengan seorang anak kecil disampingnya. Lamat-lamat kudengarkan yang dibicarakan anakku. Rupanya dia menceritakan isi buku yang dipegang bapak itu yang kebetulan dia sudah punya dan tau ceritanya. Kulirik Mama. Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa, Ma?”

“Ternyata Daanisy berani ya.. Lumayan juga public speaking-nya.. Hmm..bagus..bagus..”
“Lhoh ! Bukannya Bapak itu orang nggak dikenal ? Kata Mama ga boleh bicara sama sembarang orang ? Gimana sih Mama nih ! Kalo aku dulu dimarahin !”protesku.

“Lha kamu dulu bikin rugi kalo ngobrol ma orang.. Duit ilang mulu.. Kalo Daanisy kan enggak..Malah ngasih info positif tuh..”
Gluodaaakk !! Kalo cucunya aja dibelain. Giliran anaknya, adaaa aja alasan buat ngeles. But anyway, sepertinya mulai tampak keuntungan mendapat “titisan” bakat hobi ngobrol spontan dengan orang nggak dikenal. Karena gara-gara story-telling Daanisy tadi, si Bapak akhirnya membeli buku yang direkomendasikan Daanisy. Dan Daanisy pun dapet bonus buku cerita baru dari si Bapak. Hmm..what a benefit !

Nggak cuma itu. Ada satu pelajaran berharga dari Mama. Bahwa dunia yang luas (atau justru sempit?) ini amatlah rugi kalau nggak dimanfaatkan untuk bertukar informasi walau dengan cara by accident dan waktu yang mepet sekalipun. Dunia ini kayak jaring laba-laba dengan benang merah, kata Mama. Pembicaraan sepele bisa jadi informasi berharga suatu saat nanti. Setitik hal bisa jadi secercah pencerahan. Ya..ya..ya.. Opini yang bagus Ma !

Tapi satu hal yang diam-diam aku harapkan hingga hari ini. Semoga di kepala Mama nggak ada ide untuk bikin account di Facebook ! Hehe..

- Deeyan