I call her Mama Khalif.

April 13, 2010

Sidoarjo, 30 Oktober 2008

Saya memanggilnya Mama Khalif. Karena dia mempunyai anak laki-laki 8 tahun bernama Khalif. Seumur dengan anak sulung saya. Dia pun memanggil saya ‘Im’, singkatan dari mama Baim. Kita biasa bertemu hampir setiap hari di sekolah saat mengantar anak-anak di pagi hari. 3 tahun kita bersama menyekolahkan anak di Taman pendidikan islam yang cukup terkenal di Sidoarjo. Tapi saya tidak pernah benar-benar mengenalnya, sampai pada akhir tahun pelajaran TK B, kita mengadakan perpisahan tambahan di rumah camat Porong. Mama Khalif begitu bersemangat mengadakan acara ini.

Pada awalnya saya hanya membantu sedikit, tapi melihat semangatnya yang luar biasa, saya jadi ikut bersemangat. Mencari souvenir berdua di pasar turi naik bis kota, naik motor ke Porong tepat saat itu ramai-ramainya macet Lumpur Lapindo, bahkan muterin kota Sidoarjo mencari tempat ngeprint murah untuk foto kenang-kenangan anak-anak. Hanya dalam waktu seminggu saya dekat sekali dengan Mama Khalif. Wajahnya yang cantik, senyumnya yang tulus dan gerakannya yang cekatan serta ide-idenya yang kreatif membuat saya merasa nyaman didekatnya. Walaupun baru kenal dekat seminggu, dia selalu berusaha melindungi saya dan membuat saya nyaman. Hanya satu hal yang agak mengganggu, Mama Khalif selalu batuk.

Lama kelamaan batuknya menjadi parah. Saya inget suatu hari ada teman saya mengingatkan “ati-ati lu temenan sama Mama Khalif, dia kan TBC, ntar lu ketularan kalo deket-deket dia terus!!”. Mustinya saya setuju dengan peringatan itu, tapi entah kenapa saya tetep saja mengiyakan setiap ajakannya untuk pergi atau sekedar beli bakso bersama.

Walaupun pada akhirnya anak anak kita bersekolah di sekolah dasar yang berbeda, kita tetap berhubungan intens. Satu hal yang membuat kita klik, saya dan Mama Khalif punya jiwa wiraswasta yang tinggi. Kita selalu berdiskusi bagaimana menghasilkan uang tanpa meninggalkan anak. Kita sepakat, anak adalah investasi tertinggi kita, waktu ketika anak-anak bersekolah-lah yang mau kita manfaatkan dengan maksimal. Berkat motivasi Mama Khalif, saya jadi berani berjualan jilbab kecil-kecilan dirumah, kebetulan jilbab yang saya jual lagi trend saat itu, jadi dagangan saya laris manis.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuka butik busana muslim bersama dengan Mama Khalif. Dalam bayangan saya, kita akan kulakan bersama ke Bandung atau Jakarta, menghitung penjualan setiap hari bersama dan aktifitas lainnya. Saya melakukan semua perhitungan dan persiapan pembukaan butik bersama dengan Mama Khalif, walaupun kadang dia batuk dengan sangat parah. Sampai akhirnya ketika kita akan meresmikan butik keesokan paginya, malam harinya Mama Khalif mengirim sms “sorry br bls, td mlm ke dr. hp ketinggalan! Im mgkn gw blm bs naruh modal di butik, hsl biopsy gw jelek, jd kayaknya mengarah u/ dikemo, tp gw msh cr alternatf lain, so smtr gw cmn bantu2 elo dulu ya!”

What ! dikemo? Saya bener-bener nga nyangka kalau Mama Khalif terkena kanker paru-paru. Saya langsung lemas. Membayangkan selama ini dia wira wiri membonceng saya naik sepada motor dengan tubuh ringkihnya yang digerogoti sel kanker. Mama Khalif tidak pernah mengeluh. Belum terlalu jauh saya menerawang tiba-tiba hp saya berbunyi lagi, Mama Khalif sms saya lagi “Thxs ya Im, thxs 4 everything, plis keep this just 4 u ! gw hrs sembuh, anak2 msh butuh gw, gw ikhlas diksh cobaan ini, insyllh bs kurangin dosa2 gw!! Gw seneng pergi ma elo, kyk dkt ma sodara2 gw. Skl lg thxs berat ya Im.”
Sejak saat itu Mama Khalif agak mengurangi kegiatannya, dan hanya dalam waktu sebulan, dia betul-betul tidak bisa kemana-mana lagi karena nyeri di dada dan batuk yang semakin menggila. Tapi walopun begitu, dia masih bisa berfikir positip, dia selalu berkilah “….gue lagi dihukum sama Allah Im, dulu gue setiap hari bingung mau kemana, sekarang gue bener-bener ngga bisa kemana-mana!”. Dokter yang pertama kali mendiagnosa Mama Khalif memperkirakan umurnya hanya 6 bulan. Tapi Mama Khalif selalu tertawa dan merasa pasti akan sembuh!

Seiring berjalannya waktu, tawa Mama Khalif semakin tak terdengar, bahkan berbicarapun semakin sulit. Dalam waktu 3 bulan, dia tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Sel kanker telah dengan ganas menyerang paru-parunya. Mama Khalif telah mencoba banyak pengobatan alternative, bahkan rutin ke salatiga untuk dikemo herbal. Tapi tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya saya paksa untuk ke palliative dr.Sutomo. Saya kenal dekat dengan dr.Erna. Sebetulnya sejak awal terdiagnosa kanker, saya sudah mengajak Mama Khalif ke palliative, tapi dia selalu menolak karena merasa orang-orang yang masuk ke palliative adalah orang-orang yang sekarat. Secara kebetulan pada suatu malam saya bisa mengajak dr.Erna untuk menengok Mama Khalif yang tidak berdaya di tempat tidurnya. Walaupun baru pertama kali bertemu, dr.Erna tidak canggung untuk duduk dan memijat-mijat Mama Khalif. Dari pembicaraan singkat malam itu, saya pun ikut faham bahwa palliative sangat membantu pasien kanker untuk meningkatkan kualitas hidupnya, menghilangkan nyeri, beban pikiran dan membantu menyelesaikan masalah-masalah si pasien dari semua segi kehidupan, bukan hanya dari segi medis.

2 hari berselang, Mama Khalif meminta saya untuk di antar ke palliative dr.Sutomo. Walaupun kodisinya sudah memburuk, Mama Khalif tetap terliat ceria di sepanjang perjalanan. Sesampainya di ruang perawatan, dr.Erna menyuruh saya untuk mengurus pendaftaran dilantai 1. Saat itulah saya baru sadar bahwa saya tidak tau nama Mama Khalif yang sebenarnya. Saya hanya terbiasa memanggilnya Mama Khalif seperti dia juga terbiasa memanggil saya Mama Baim. Tapi apalah arti sebuah nama, yang penting hati kita terkoneksi oleh sesuatu yang kita sendiripun tidak bisa menjelaskan. Kunjungan ke Palliative ini merupakan kunjungan Mama Khalif yang pertama sekaligus yang terakhir.

Setelah itu sakitnya semakin memarah, tapi justru dengan begitu saya mengenal Mama Khalif semakin dekat. Dia ternyata cucu pertama pahlawan nasional R.E Martadinata. Saya baru tau itu setelah dia dirawat inap di RSAL dan ditempatkan di paviliun 8, tempatnya para jenderal dirawat inap. Sayang di RSAL tidak ada palliative sehingga dr.Erna ataupun dr.Agus hanya bisa berkunjung sebagai penjenguk saja. Tapi itupun sangat banyak membantu mental Mama Khalif yang sudah sangat down. Sering sekali dia berkata ”….gue nyerah Im, gue nyerah!!”. Saya selalu tidak bisa berkata banyak untuk memotivasi dia. Melihat badannya yang sangat kurus, batuknya yang tidak pernah berhenti, keringat yang terus mengucur, dadanya yang nyeri dan susah bernafas, bahkan pandangannya mulai mengabur. Di kunjungan saya yang terakhir Mama Khalif berpesan “…….titip anak gue”.

Tepat 3 hari setelah itu Mama Khalif akhirnya betul-betul menyerah dan dipanggil menghadap sang Khalik..

Sekarang tepat 9 bulan setelah kematian Mama Khalif, saya masih sering berandai-andai. Bila saya sedang menghadapi masalah, saya selalu membayangkan Mama Khalif ada disamping saya dan mendengarkan semua cerita saya. Kebetulan 2 bulan belakangan ini, saya betul betul di uji oleh Allah. Saya dihujani fitnah dilingkungan sekolah anak saya. Niat baik ternyata tidak cukup untuk meyakinkan banyak orang. Sikap kritis saya akhirnya berbuah musibah. Saya diminta oleh ketua yayasan sekolah anak saya untuk memindahkan anak saya ke sekolah lain, hanya karena saya membela dua orang guru yang akan dikeluarkan dari sekolah tersebut.

Tidak ada pilihan lain, disiang yang terik saya berjalan ke SD swasta terbaik di Sidoarjo yang letaknya berdekatan dengan rumah sakit Siti Hajar untuk mendaftarkan anak saya sekolah. Sekolah ini terkenal ketat menyeleksi calon siswanya, tapi alhamdulillah saya tidak menemui hambatan yang berarti ketika mendaftar. Begitu gampang dan mudah.

Di hari pertama sekolah di sekolah barunya, anak saya sedikit ketakutan. Sehingga saya memutuskan untuk menungguinya seharian penuh di sekolah. Ketika saya duduk di pelataran sekolah, tiba-tiba sesosok wajah yang sangat familiar terpampang di depan wajah saya. Dengan senyumnya yang khas dan sangat mirip. Khalif!!! Anak itu begitu mirip dengan mamanya. “Tante ngapain kesini?”tanyanya polos. Oh my God!! Rupanya inilah rahasia Allah untuk saya. Perjalanan hidup saya selama ini adalah untuk bertemu dengan Khalif, anak yang dititipkan mamanya yang meninggal karena kanker paru. Subhanallah!!

Tulisan ini saya buat 2 tahun lalu dan saya upload untuk mengenang persahabatan terindah yang pernah saya jalin dalam waktu yang sangat singkat dengan seseorang yang sangat luar biasa baik, Mama Khalif.

- Tittu Riana
————————————————————–

http://curhatcintacolongan.wordpress.com/
100% Nggombal. 100% Main hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.