Harapan dan Kenyataan: tentang aku, kau dan dia
May 1, 2010
Aku seakan tidak percaya, mengenalmu begitu cepat. Seperti Tuhan mengirimkan dirimu padaku. Dirimu begitu berbeda, seakan melihat diriku dalam bentukmu, melihatmu bagaikan cermin bagiku. Tak butuh waktu lama untuk bisa jatuh cinta padamu. Ini seakan keajaiban bagiku. Ya, tak perlu ragu aku mengatakannya… Aku jatuh cinta padamu, sejak pertama aku melihat dirimu. Terlalu naif memang. Masa lalumu pun tidak penting bagiku. Meskipun jika kudengar lagi ceritamu, kau selalu mengulang-ulang kesalahan yang sama. Ketika dia datang kembali dalam hidupmu sebelumku, menemanimu dalam setiap waktumu. Satu pertanyaan timbul dalam hatiku,mampukah aku merebut hatimu darinya.
Kau mulai menatapku, ada keyakinan pasti di situ. Kau mau, aku menjagamu setiap saat, untuk setiap jawaban atas pilihanmu di masa lalu, yang aku sendiri tak yakin dengan apa yang telah kau perbuat. Kau pun tak pernah berfikir panjang, menganggap bahwa semua pria di bumi ini adalah makhluk baik, menganggap bahwa kejadian beberapa tahun silam telah usai, meskipun trauma itu tak pernah hilang darimu. Kau berusaha menutupinya, dengan bersikap santai di depan para pria dan aku tahu itu, walaupun kau berusaha menutupinya dariku. Tapi kau juga selalu membutuhkan dia berada di sisimu. Dimanapun, kapanpun, kamu membutuhkan dia menjagamu, karena kamu tahu aku tak mampu melakukannya. Sorot matamu, memancarkan hal lain padaku, seolah memohon satu hal yang tak mungkin kulakukan. Aku tak bisa menjaga kamu, jika yang kau minta dariku adalah seluruh waktuku untuk bersamamu seperti yang bisa dia lakukan saat ini kepadamu. Namun yang harus kau mengerti, doaku terhadapmu mestinya lebih bisa menjagamu.
Dia tersenyum pada sosokmu yang berdiri di depannya. Kau telah mengembalikan rasa percaya dirinya, meskipun itu berarti dia harus menjadi penjagamu kemana pun kau mau. Masa lalunya seburam masa lalumu, dan yang aku tak tahu bagaimana bisa mereka berusaha menghilang dari masa lalu kalian. Dia dan kau seolah menikmati peran yang kalian mainkan saat ini. Dia hanya menginginkan sebuah kepastian, yang selama ini tak pernah didapatkannya. Keinginan mu untuk segera menikah hanya untuk lari dari suatu masalah, itu yang terus terang menakutiku. Bukan berarti aku tak berani untuk mengambil langkah bersamamu, namun menurutku untuk sesuatu yang nanti harus dipertanggungjawabkan dihadapan Nya, aku tidak berani bermain-main. Walaupun bahkan dia berusahan meyakinkanku untuk menikahimu, demi keputusan di masa lalumu, yang menurutku sangat suram.
Aku berlari, menjauhimu dan dirinya. Terserah jika kau bilang aku pengecut, mungkin memang benar, sisi lain dalam hatiku mengatakan kebenarannya. Aku tak berani mempertahankan cintaku kali ini. Membuang segala harapan untuk menyusuri hari bersamamu. Bagiku, pernikahan bukan suatu permainan, terlebih lagi aku hanya bisa melakukannya sekali dalam hidupku. Inginku, semuanya tak perlu terlalu dipaksakan, karena aku akan menjagamu dengan caraku dari semua masalah yang datang padamu. Namun, jika memang kehadirannya mampu melegakan hatimu, aku rela melepaskanmu untuk dia dan kebahagian mu. Hanya semuanya tak pernah ku sangka, kau hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk meyakinkan hatimu setelah ketidakhadiran diriku untuk MENIKAH dengannya.
Mungkin aku adalah orang yang terbodoh yang telah kamu kenal, aku masih terlalu takut menghadapi hidupku. Biarlah ketidakdewasaanku, kesombonganku akan menjadi lembaran gelap bagi diriku.
Aku…
Berdiri disini, ditempat yang sama ketika kau datang menemuiku pada saat pertama kali.
Tulus mengucapkan padamu, Semoga Kau berbahagia dengan Dia.
Satu hal untuk kalian berdua,..
jangan lakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu, karena kalian tidak hanya bertanggungjawab atas diri kalian, terhadap Tuhan, tapi juga terhadap anak-anak kalian dan masa depan mereka.
Aku minta padanya untuk menjaga mu baik-baik selamanya…
Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri untuk cintaku saat ini.
Keinginanku kau menungguku di tempat yang sama untuk satu dua tahun ke depan, setelah aku punya lebih dari sekedar keberanian menyakinkan hatiku.
Meskipun berat melepaskanmu untuknya, yang aku tahu Tuhan masih tetap mengasihiku.
Lewat doa, aku selalu menjagamu…hingga nanti.
Ternyata cinta telah menemukan jalannya sendiri,
cinta memilih untuk menyepi lagi saat ini
-NN
————————–