Terus Belajar Buat Lebih Sabar
May 18, 2010
Tak pernah terfikirkan pada saat itu untuk menikah muda. Kuliah juga belum selesai. Hobi juga masih suka nongkrong sama temen-temen cowok. Jadi setelah bertemu beberapa kali dan dia meminta untuk menjadi istrinya, sempet melongo selama beberapa menit (entah dia sadar atau nggak saat itu) hihihii… Hanya memerlukan waktu setahun meyakinkan hati dan menyamakan keinginan diri pada saat itu, maklum beda usia kami memang sepuluh tahun. Jadi kalaupun saat itu aku yang pertama kali menikah di antara teman perempuan tapi suami termasuk (lewat) usia menikah.
Setahun pertama, fokus nyelesai’in kuliah yang saat itu tinggal tugas akhir, ketika semua orang menanyakan tentang , “Udah hamil belum?” saya hanya bisa tersenyum dan menegaskan dengan gelengan kepala. Tahun kedua, ketika saudara yang hampir berbarengan melakukan pernikahan sudah pada menimang bayi dan saya tetap belum ada perubahan, pertanyaan orang-orang tetap bagai angin lalu, maklum masih juga 24 tahun, meskipun terkadang pertanyaan mereka bikin bete.
Tahun keempat dan kelima adalah yang paling berat, sempet nggak mau ketemu sama orang, bosen banget menjawab pertanyaan yang jawabannya bikin nyesek….. “Kenapa belum sih?? Ditunda yah, pake KB??” “Nggak ada yang nunda, jika memang Tuhan belum mempercayakan kepada kita….. saya menerimanya.” Jujur, bosan juga mendapatkan pertanyaan yang itu-itu aja dan sebetulnya memang tidak ada yang salah di pertanyaannya, hanya menyiapkan jawaban kalau hati sedang tidak siap rasanya pengen nangis. Kalau bisa saya akan merekam semua jawaban yang ditanya orang berulang-ulang, dan memutarnya di depan mereka. Apalagi kalau sudah mulai dibandingkan. “ Si A sudah hamil, kok kamu belum” atau “ Si B lagi hamil anak ketiga, masak satu aja nggak bisa.” Tidak merasakah jika keadaannya dibalik, diposisi seperti diriku saat itu , gimana jika mendapatkan pernyataan seperti itu, menyakitkan atau nggak.
Bukan berarti kami tidak berusaha, hanya kami tidak ingin menghalalkan segala hanya untuk mendapatkan momongan. Kadang bertemu dengan dokter perlu tenaga ekstra , karena observasi yang dilakukan secara tiba-tiba bikin “keder” hati. Mesti sabar mengantri dokter setiap bulan, terkadang pulang sampai dini hari. Kalau ditanya pernah merasakan capek, jenuh, dan menyerah??? Iyaaaa banggeeett, bohong kalau berkata nggak pernah mengalaminya, biasanya pada saat kebosanan melanda, kami akan break dari dokter dan berusaha mendekatkan diri satu sama lain. Kami melihat sesuatu jika dipaksakan hasilnya akan tidak baik. Tidak selalu tapi kebanyakan begitu. Aaaahh, kalian pasti berfikir mengapa tidak mencoba datang ke pengobatan alternatif bukan?? Sudah kok, cuma memang kami hanya mau untuk dipijet itu pun masih milih tukang pijetnya. Kami lebih percaya dokter, kalau disuruh melakukan ritual yang aneh-aneh atau minum jamu-jamuan lebih baik nggak deh, karena kami lebih percaya pada saatnya nanti kalau memang sudah waktunya Tuhan akan mengirimkannya pada kami.
Satu lagi, saya paling bête kalau ada pertanyaan, “ Sebenernya siapa yang bermasalah sih? Kamu atau suamimu?” Penting ya pertanyaan seperti itu. Kalaupun saya yang bermasalah sehingga nggak bisa punya momongan kenapa?? Ataupun kalau memang suami saya yang bermasalah bisa apa?? Saya mau membahasnya, hanya pada sebagian dari mereka yang bisa memberikan solusi bagi kami. Kalau hanya sekedar omongan dan tanpa ada jalan keluar biasanya saya hanya tersenyum dan pergi menjauh dari percakapan yang bagi saya membosankan.
“Momongan sudah berapa mbak?”
“Belum nih, doakan aja yaaa…..”
“Eheem, penganten baru ya mbak?”
“Nggak, sudah jalan 9 tahun….dan saya memang masih terus dilatih sabar buat dapet momongan.”
“Iyaaa mbak….bilang aja yang ini garapan halus perlu di bordir supaya hasilnya bagus…”
Lucu juga jawabannya, kadang justru dari mereka yang bertanya saya bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang menjemukan dengan gurauan.
Sekarang, saya bisa tersenyum ikhlas setiap menjawab pertanyaan orang yang baru saya kenal jika bertanya tentang saya. Sembilan tahun telah mendewasakan saya, memutuskan untuk mengurung diri demi menghindari pertanyaan tidak akan menyelesaikan masalah. Paling penting adalah mendapatkan kekuatan dari pasangan, tanpa itu saya pun tak akan mampu menghadapi pertanyaan orang yang sampai sekarang masih terus menghantui.
-endeka